Beranda / News

Hari Raya Idul Fitri 1444 H, BRIN Sebut akan Ada Perbedaan

news.terasjakarta.id - Kamis, 13 April 2023 | 09:15 WIB

SHARE
Share Whatsapp Share Facebook Share Twitter Share Link
BRIN sebut adanya potensi perbedaan jadwal Hari Raya Idul Fitri 1444 H antara Muhammadiyah dan Pemerintah. (Freepik/freepik)

BRIN sebut adanya potensi perbedaan jadwal Hari Raya Idul Fitri 1444 H antara Muhammadiyah dan Pemerintah. (Freepik/freepik)

Penulis : Adinda Salsabila
Editor : Adinda Salsabila

JAKARTA, TERASJAKARTA.ID - Peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin menyebut adanya potensi perbedaan jadwal Hari Raya Idul Fitri 144 H.

Selaku Profesor Ridet Astronomi - Astrifisika Badan Riset dan Inoveasi Nasional (BRIN), Thomas Djalaluddin mengatakan bahwa Hari Raya Idul Fitri 1444 H atau Lebaran 2023 akan ada perbedaan Jadwal.

Hal itu disampaikan oleh Profesor Ridet Astronomi - Astrifisika BRIN yang menjelaskan bahwa perbedaan jadwal Hari raya Idul Fitri 1444 H antara pemerintah dan Muhammadiyah ini disebabkan adanya perbedaan penetapan kriteria awal bulan.

Baca Juga : Tiket Mudik Lebaran KA telah Terjual 500.000 untuk Keberangkatan Jakarta

Thomas selaku Profesor Ridet Astronomi - Astrifisika BRIN ini memaparkan bahwa pada 29 Ramadan 1444 H atau 20 April 2023 saat waktu Magrib, posisi bulan suah memenuhi kriteria wujud hilal.

Namun, pada posisi tersebut ternyata masih belum memenuhi kriteria baru menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, serta Singapura(MABIMS).

Di mana pemerintah menggunakan tinggi hilal minimal 3, sudut elongasi 6,4 derajat, umur bulan 8 jam, serta memnuhi kriteria wujudl hilal.

Baca Juga : BMKG Perkirakan Hilal Belum Terlihat 20 April, Lebaran Kemungkinan Tanggal 22

Sehingga, dapat dikatakan awal bulan Syawal 1444 H atau Lebaran 2023 jatuh pada 21 April 2023 apabila merujuk pada kriteria wujud Hilal.

Sementara, di sisi lain Lebaran 2023 akan jatuh pada 22 April 2023 jika merujuk pada kriteria baru MABIMS.

Thomas juga menyebut bahwa penyebab utama perbedaan penentuan awal Ramadan 2023, Idul Fitri 1444 H, dan Idul Adha disebabkan belum adanya kesepakatan mengenai kriteria awal Hijriah.

"Penentuan awal bulan memerlukan kriteria agar bisa disepakati bersama. Rukyat memerlukan verifikasi kriteria untuk menghindari kemungkinan rukyat keliru," ujar Thomas seperti dikutip laman resmi BRIN.

Baca Juga : Tiga Gerbang Tol Jakarta-Cikampek Diskon 20 Persen Saat Mudik Lebaran Idul Fitri 2023, Catat Tanggalnya!

Menurut Thomas, Masuknya awal bulan dengan melakukan hisab tidak bisa ditentukan tanpa adanya kriteria.

Lebih lanjut, Thomas menuturkan bahwa prasyarat utama untuk terwujudnya unifikasi kalender Hijriyah adalah harus ada otoritas tunggal.

Otoritas Tunggal ini akan menentukan kriteria serta batas tanggal yang dapat diikuti bersama.

Baca Juga : Makna Idul Fitri dan Lebaran Bagi Umat Muslim, Simak Penjelasannya

Thomas memberikan saran untuk saat ini otoritas tunggal terlebih dahulu diwujudkan di tingkat nasional atau regional, sebagaimana penentuan ini mengacu pada batas wilayah sebagai satu wilayah hukum sesuai batas kedaulatan negara.

Sementara itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan, Syawal, serta Zulhijah 1444 H.

Berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal melalui pedoman Majelis Tarjih dan Tajdid, Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan, Syawal, serta Zulhijah 1444 H

Muhammadiyah mengumumkan bahwa 1 Syawal 1444 H akan jatuh pada Jumat, 21 April 2023.

Baca Juga : Harga Cabai di Pasar Kemiri Muka Depok Turun Jelang Lebaran, Dijual Rp45 Ribu Perkilo

Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A. selaku Ketua PP Muhammadiyah mengatakan bahwa Muhammadiyah menetapkan awal bulan Qamariah berdasarkan posisi geometris benda-benda langit, yakni Matahari, Bumi, dan Bulan.

Utamanya, posisi geometris tersebut telah memenuhi metode hisab wujudul Hilal.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang isbat pada Kamis, 20 April 2023.

Pada Kamis, 20 April 2023 tersebut, sidang isbat digelar bertepatan dengan tanggal 29 Ramadan 1444 H.

Hasil sidang isbat yang dilakukan oleh Kementerian Agama (Kemenag) dan Nahdlatul Ulama (NU) ini berdasarkan dari data hisajb yang merujuk pada hasil rukyatul hilal di sejumlah lokasi seluruh wilayah Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

SHARE
Share Whatsapp Share Facebook Share Twitter Share Link