Beranda / News

Dampak El Nino Ancam Krisis Pangan dan Inflasi di Indonesia, Bakal Berakhir November 2023

news.terasjakarta.id - Rabu, 9 Agustus 2023 | 14:33 WIB

SHARE
Share Whatsapp Share Facebook Share Twitter Share Link
El Nino, Inflasi, Krisis Pangan

Dampak El Nino mengancam terjadinya krisis pangan dan inflasi di Indonesia. BMKG prakirakan fenomena musim kemarau ini berakhir November 2023. (Foto: Freepik)

Penulis : Adinda Salsabila
Editor : Adinda Salsabila

JAKARTA, TERASJAKARTA.ID - Fenomena El Nino yang tengah di hadapi nyatanya berdampak pada ancaman krisis pangan dan inflasi di Indonesia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan bahwa dampak dari El Nino di Indonesia akan menyebabkan kekeringan yang sangat parah akibat kurangnya curah hujan.

Bahkan, di sejumlah wilayah Indonesia diprediksi BMKG mengalami musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan biasanya akibat dari fenomena El Nino.

Baca Juga : Petaka El Nino, BMKG Prediksi Puncak Kemarau Mulai Agustus hingga September 2023

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu muka laut (SML) yang terjadi di atas kondisi normal di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Pemanasan SML itulah yang mengakibatkan bergesernya potensi pertumbuhan awan dari wilayah Indonesia ke Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Kondisi itulah yang menyebabkan terjadinya kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia dengan sektor pertanian yang paling berdampak, terutama tanaman pangan yang sangat memerlukan air.

Dilansir dari laman resmi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) Bali, El Nino ternyata dapat mempengaruhi penyebaran hama tanaman.

Baca Juga : Sisi Lain El Nino: Tingkatkan Produksi Garam dan Panen Ikan, Dukung Ketahanan Pangan di Tengah Kekeringan

Dimana serangan hama tersebut dapat menyebabkan turunnya produksi tanaman pertanian di Indonesia.

Dengan penurunan pasokan produksi ini, maka dampaknya terjadi pada kenaikan harga produk pertanian yang berefek negatif pada ketersediaan pangan hingga stabilitas ekonomi.

Tak hanya itu, buntut dari El Nino juga berpotensi menyebabkan terjadinya inflasi di Indonesia karena fenomena tersebut mendorong suhu tinggi.

Baca Juga : Siapkan Anggaran Rp8 Triliun, Pemerintah Minta Kepala Daerah Bersiap Hadapi Kekeringan Dampak El Nino

Kondisi itu membuat produksi pertanian dan pertambangan mengalami penurunan.

Dampak El Nino di Indonesia Terasa di Papua Tengah hingga Memakan Korban

Lebih lanjut, dampak dari kekeringan ekstrem ini telah terasa dan dialami di Kabupaten Puncak, Papua Tengah.

Wilayah Papua Tengah dilanda kemarau sejak Juni 2023 yang menyebabkan terjadinya kekeringan hingga gagal panen.

Baca Juga : Pemerintah Siapkan Anggaran Rp8 Triliun Antisipasi Dampak El Nino

Akibat dari kekeringan tersebut, setidaknya enam warga yang berada di Distrik Lambewi dan Distrik Agandugume meninggal dunia karena kelaparan.

BMKG Ungkap Puncak dari Fenonema El Nino

Sementara itu, untuk puncak dan akhir dari fenomena El Nino telah diprediksi oleh BMKG.

Baca Juga : Pemerintah Siapkan Anggaran Rp8 Triliun Antisipasi Dampak El Nino

Berdasarkan pantauannya selama 10 hari terakhir di bulan Juli 2023, diketahui indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan angka +1.14 yang mengindikasikan intensitas fenomena terus meningkat sejak awal Juli 2023.

Selain itu dari hasil pemantauan hingga pertengahan Juli 2023, sebanyak 63 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, A. Fachri Rajab menyampaikan bahwa dampak musim kemarau tahun 2023 ini lebih kering dibanding biasanya akibat curah hujan yang berkurang.

Dikutip dari laman resmi BMKG, Fachri menyebut selain curah hujan yang berkurang, tutupan awan berkuran dengan suhu yang meningkat juga menjadi penyebabnya.

Baca Juga : BMKG Ungkap El Nino di Indonesia Bikin 63 Persen Wilayah Mulai Terdampak, 4 Kabupaten Jabar Siaga Kekeringan

"El Nino di Indonesia memberikan dampak pada kondisi lebih kering. Sehingga curah hujan berkurang, tutupan awan berkurang, dan suhu meningkat," kata Fachri.

Kemudian, Pejabat Madya Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG), BMKG Stasiun Geofisika Klas 1 Tangerang, Maria Evi Tiansari mengatakan bahwa puncak kemarau kering yang terjadi itu akan berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional.

Maria Evi menyebut bahwa puncak kemarau kering yang terjadi pada Agustus hingga awal September ini mengancam terjadinya gagal panen pada lahan pertanian tadah hujan.

Baca Juga : Pusat Kesehatan Hewan dan Peternakan Bambu Apus Gencarkan Urban Farming Guna Hadapi El Nino

Maria menjelaskan bahwa indeks El Nino pada bulan Juli lalu telah mencapai level moderate.

Sementara tu, Indian Ocean Dipole (IOD) telah memasuki level index yang positif.

Dimana fenomena El Nino dan IOD positif ini saling menguatkan. Sehingga, menyebabkan musim kemarau tahun 2023 menjadi lebih kering.

Bahkan, curah hujan pada musim kemarau 2023 berada pada kategori rendah hingga sangat rendah.

Baca Juga : Wanti-wanti Dampak El Nino, Pemprov DKI Bagikan Benih Tanaman Cepat Panen Pada Warga

Sementara itu, Maria memaparkan IOD merupakan fenomena penyimpangan SML di Samudra Hindia.

Pada penyimpangan SML ini menyebabkan terjadinya perubahan pergerakan pada atmosfer atau masa udara.

Dengan demikian, dua fenomena yang terjadi menyebabkan wilayah Indonesia mengalami kekeringan dan berkurangnya curah hujan.

Baca Juga : Hadapi Puncak El Nino, Pemerintah Lakukan Modifikasi Cuaca Datangkan Hujan untuk Cegah Kekeringan

Fenomena ini juga menimbulkan kekeringan yang lebih ekstrem dan musim kemarau lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

BMKG Prediksi El Nino Berakhir November 2023

Puncak El Nino yang terjadi pada Agustus-September 2023 membuat BMKG memprediksi fenomena kekeringan ini akan berangsung berakhir pada November.

Sebab, hujan akan mulai terjadi pada bulan November. Berdasarkan prakiraan curah hujan buanan BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan bulanan kategori rendah.

Baca Juga : Antisipasi Puncak El Nino, Jumat Menanam jadi Jakarta Menanam: Digelar Setiap Hari

Bahkan, sebagian wilayah Indonesia lainnya akan mengalami kondisi tanpa hujan sama sekali hingga Oktober 2023 mendatang.

Wilayah Indonesia yang Terdampak El Nino

Adapun wilayah di Indonesia yang mengalami dampak cukup kuat diantaranya sebagian besar Sumatera, termasuk Riau, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Lampung.

Baca Juga : Imbauan Sudin KPKP Jakarta Barat Hadapi Puncak El Nino untuk Poktan: Tunda Tanam Padi dan Buat Embung Air

Selain itu, hujan dengan intensitas rendah juga diprediksi terjadi hampir di seluruh wilayah Jawa.

Hal serupa juga dirasakan wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), serta Nusa Tenggara Timur (NTT).

Terakhir, terjadi di Pulau Kalimantan dan Sulawesi yang terdiri dari Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, hingga Sulawesi Tenggara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

SHARE
Share Whatsapp Share Facebook Share Twitter Share Link